Kopi, Manusia dan Lingkungan

Oleh: Khairi Nurokhim

Kopi merupakan suatu kata yang menunjuk (lebih sering didengar) pada suatu jenis minuman meskipun sebenarnya kata tersebut lebih tepat dan lebih benar menunjuk pada beberapa jenis tanaman penghasil buah kopi (bahan baku minuman kopi). Minuman kopi sendiri sudah dikenal oleh manusia sejak berabad-abad yang lalu dan mulai berkembang di eropa dengan munculnya cafe yang diambil dari kata coffee (penyebutan kopi di eropa) itu sendiri.  Sementara di Indonesia kopi baru dikenal sejak zaman kolonial belanda dimana belandalah yang membawa dan membudidayakan tanaman tersebut secara besar-besaran diseluruh indonesia dikarenakan kopi termasuk salah satu komoditi perdagangan utama di eropa. Namun demikian sebenarnya kita tidak benar-benar dapat menikmati minuman kopi itu sendiri pada saat itu bahkan mungkin sampai saat ini. Saat itu belanda membudidayakan kopi jenis arabika, robusta dan liberika (hasil persilangan antara arabika & robusta) pada awalnya. Namun karena dinilai kopi jenis liberika tidak menjanjikan maka beberapa tahun kemudian belanda memusnahkan hampir seluruh perkebunan kopi jenis tersebut di Indonesia.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ketiga didunia saat ini setelah Brazil dan Vietnam. Data ICCRI pada tahun 2011 mencatat bahwa produksi kopi indonesia mencapai 600 ribu ton/tahun dengan 80%nya dihasilkan dari perkebunan rakyat dan memeliki kecenderungan untuk bertambah seiring masifnya perkembangan perkebunan kopi baru di Indonesia. Nilai ekspor kopi indonesia mencapai US $ 420,177,469 per april 2013, yang terdiri dari ekspor biji kopi, kopi instan maupun olahan kopi lainnya [aeki, 2013]. Dari ketiga varian produk ekspor tersebut nilai terbesar ialah pada ekspor biji kopi yakni senilai US $ 334,122,728 sementara nilai ekspor terkecil pada varian hasil olahan lainnya yakni senilai US $ 2,051,180. Perkembangkan kopi yang prospektif juga bisa dilihat dari perkembangan harga kopi dunia yang terus meningkat sejak tahun 2002 (lihat grafik disamping) meskipun pada tahun 2012 harga kopi baik arabika maupun robusta mengalami penurunan. Pada grafik disamping jenis kopi robusta mengalami kenaikan harga tertinggi pada tahun 2011 yakni mencapai US $ 5652/ton.

Pembudidaya tanaman kopi umumnya ialah masyarakat pegunungan atau dataran tinggi yang secara kebetulan berbatasan dengan hutan atau kawasan hutan meskipun sebetulnya secara ekogeografi tanaman kopi memiliki distribusi atau wilayah persebaran yang cukup luas yakni mulai dari ketinggian 0 mdpl-2000 mdpl. Beberapa jenis memang membutuhkan kriteria tertentu untuk bisa tumbuh secara optimal seperti jenis arabika yang dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian diatas 1000 mdpl. Iklim dan tanah juga mempengaruhi pertumbuhan kopi secara optimal. salah satu unsur iklim yang sangat berpengaruh ialah curah hujan . Menurut Niken (staff Puslit KOKA) curah hujan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan kopi yakni antara 1500-2000 mm/th. Ia membagi beberapa kriteria yang sesuai untuk pertumbuhan kopi berdasarkan intensitas air hujan yakni S1, S2, S3 dan N. S1 maksudnya ialah daerah dengan curah hujan 1500-2000 mm/th dan daerah tersebut sangat sesuai untuk menunjang pertumbuhan kopi secara maksimal. S2 merupakan daerah dengan curah hujan antara 1250-1500 mm/th dan merupakan daerah sesuai. Sementara S3 merupakan daerah dengan curah hujan 1000-1250 mm/th dan merupakan daerah kurang sesuai bagi pertumbuhan kopi sedangkan daerah dengan kriteria N ialah daerah dengan curah hujan dibawah 1000 mm/th dan merupakan daerah yang tidak sesuai.

Wilayah penghasil kopi di Jawa Tengah antara lain ialah Bawen (Kebun Kopi Banaran-PTPN IX), Indrokilo (Perkebunan Rakyat-Ungaran), Banyuwindu (Perkebunan Rakyat-Limbangan), Petung Kriyono (Perkebunan Rakyat-Pekalongan), Tlahap (Perkebunan Rakyat-Temanggung) dan beberapa tempat lainnya. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah yang berada pada ketinggian 600-1300an mdpl.

Kopi merupakan komoditi yang lekat dengan kehidupan masyarakat pegunungan bahkan merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi mereka. Kopi merupakan salah satu minuman yang tidak boleh tidak ada dan selalu dijumpai dalam setiap aktivitas sosial masyarakatnya baik itu kongko-kongko, rembug warga, maupun sebagai jamuan. Hampir setiap keluarga di wilayah pegunungan (meskipun sering juga dijumpai diwilayah lain) memiliki persediaan kopi bubuk baik dalam bentuk original tanpa campuran maupun dalam bentuk campuran dan sebagai bahan campuran biasanya digunakan jagung, beras dan jahe. Bahkan beberapa warga biasaya memiliki simpanan kopi dalam bentuk kopi beras yakni biji kopi yang masih terbungkus kulit ari (kulit tanduk) maupun dalam bentuk biji kopi siap sangrai. Kopi juga memberikan kesempatan bekerja bagi masyarakat sekitar sebagai tenaga petik kopi saat memasuki musim panen terutama saat musim panen raya yang biasanya jatuh pada bulan Juli-Agustus. Begitu tak terpisahkannya kopi dalam kehidupan masyarakat kita sampai-sampai banyak kajian, tulisan dan karya yang berkaitan dengan minuman tersebut atau sengaja mengkaitkannya meskipun tidak memiliki hubungan sama sekali. Diatara banyak kajian/ karya tersebut salah satunya ialah Filosi Kopi sebuah novel karya Dewi Lestari yang baru-baru ini telah difilmkan dengan judul yang sama dan telah rilis pada april 2015. Bisa disebut ngopi (bukan duplikasi) adalah bagian dari kebudayaan kita.

Perkembangan kopi saat ini sangat pesat bahkan permintaan dunia atas komoditi kopi terus meningkat dari tahun ketahun bahkan diprediksi terus meningkat seiring dengan bertambahnya penikmat kopi. Lihat grafik berikut (googling dulu). Dengan pertumbuhan pasar yang sedemikian pesat maka akan mendorong banyak pihak terutama petani kopi sendiri untuk membuka lahan guna memperluas areal perkebunan kopi dan meningkatkan produktivitasnya dengan berbagai cara meskipun hal itu tidak ramah lingkungan. indikasinya sudah ada antara lain pembukaan hutan, alih fungsi lahan dan penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya seperti penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Sementara itu para petani kopi saat ini belum mempraktekan sistem pengelolaan kopi yang zero waste atau clear coffee management yakni suatu sistem pengelolaan kebun kopi yang mendasarkan pada prinsip efisien, efektif, dan hemat energi serta renewable seperti pemanfaatan limbah kopi sebagai kompos, pakan ternak atau lainnya dan dalam pengolahan biji kopinya harus hemat energi. Dengan kata lain tantangan selanjutnya ialah bahwa praktek pengolahan kopi belum ramah lingkungan dan belum menjamin keberlanjutannya bagi kehidupan masyarakat dan petani itu sendiri.

Perluasan kebun kopi yang masif dengan pembukaan hutan (deforestrasi) dan alih fungsi lahan akan berdampak buruk bagi lingkungan, keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia itu sendiri. Kebiasaan yang terjadi dimasyarakat/ petani kopi yang tinggal dan hidup berdampingan dengan hutan ialah mereka cenderung menebang pohon dalam upaya eks/intensifikasi budidaya tanaman kopinya. Mereka berpendapat bahwa tanaman kopi membutuhkan area yang tenggar atau terbuka sehingga cahaya dari sinar matahari dapat menyinari tanamannya. Pendapat semacam ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan sebenarnya tanaman kopi membutuhkan tanaman pelindung sebagai peneduh untuk mengatur kelembaban dan intensitas cahaya matahari yang masuk serta sebagai pelindung dari terpaan angin. Selain itu dengan adanya tanaman pelindung mampu mengurangi emisi carbon yang memberikan kontribusi terhadap pengurangan peningkatan suhu dan perubahan iklim secara global. Hasil penelitian Cacho et al tahun 2003 menyatakan bahwa laju penyerapan carbon diareal perkebunan kecil dan perkebuanan agroforestry secara berkelanjutan di negara tropis mencapai 1,5-3,5 ton C/ha/tahun. sementara menurut Hairiah (2010) dalam Panduan Sekolah Lapangan: Budidaya Kopi Konservasi (CI-Indonesia, 2011) menyatakan bahwa kemampuan perkebunan kopi dalam menyimpan karbon dapat mencapai 100 ton/ha dan dapat ditingkatkan dengan penanaman tanaman pelindung dengan lebih variatif.

Hal ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang kliru atau kurang dipahami oleh masyarakat/ petani dalam hal pembudidayaan tanaman kopi. Kejadian ini saya lihat sendiri dibeberapa lokasi seperti di Banyuwindu dan Indrokilo. Berkurangnya luasan hutan atau hilanganya tegakan akan mempengaruhi daya serap dan daya ikat suatu wilayah terhadap air dan tanah yang berdampak pada terjadinya banjir dan tanah longsor. Dampak lainnya ialah terancam dan berkurangnya keanekaragaman hayati diwilayah tersebut atau terjadinya ledakan populasi suatu jenis akibat hilangnya satu mata rantai ekosistem. Cerita dari masyarakat/ petani di Indrokilo saat wokshop education for sustainable agriculture beberapa waktu lalu di Balai Tani APVASI Gunungpati Semarang ialah bahwa salah satu issue yang menjadi prioritas utama mereka ialah adanya serangan hama monyet dan babi hutan diareal perkebunan mereka sebagai akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi dan cengkeh.

Kebiasaan lainnya ialah perilaku penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya (sapro) yang antara lain ialah pupuk dan pestisida kimia dimana residu dari bahan-bahan kimia tersebut akan terbawa aliran air hujan dan terakumulasi didalam buah. Dampaknya ialah terjadi pencemaran air dan tanah serta hilangnya pemangsa (predator) alami dan organisme pengurai yang hidup didalam tanah. Akibatnya tanah menjadi keras dan tidak subur serta mengubah struktur fisik tanah yang dikemudian hari justru akan merugikan petani sendiri karena lahan sulit untuk ditanami lagi. Dampak dari pencemaran air ialah berkurangnya sumber bahan baku air minum dan hilangnya plasma nutfah air tawar (freshwater biodiversity) sebagai akibat rusaknya ekosistem air tawar.

Dalam skala pengolahan hilir kopi (produksi kopi bubuk) kebanyakan masyarakat/ petani kopi masih menggunakan cara-cara tradisional yang kurang ramah lingkungan seperti pada proses penyangraian biji kopi yakni masih menggunakan bahan baku kayu bakar sebagai sumber pengapian. Jika hal ini tidak dilakukan dengan menejemen pengolahan hasil hutan kayu secara baik dan bijak tentu akan berdampak negatif terhadap luasan hutan dan sumber daya alam yang ada. Pengelolaan limbah dari pengolahan kopi seperti limbah kulit dan air sisa cucian/peraman biji kopi (dalam proses basah) juga belum ada sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Untuk itu seyogyanya harus kita pikirkan secara bersama bagaimana upaya membudidayakan tanaman kopi secara berkelanjutan dengan prinsip-prinsip clear coffee management and zero waste (CCM-Zero) mengingat komoditi kopi merupakan salah satu komoditi yang sangat menjanjikan dimasa depan sehingga anak-anak kita dan genarasi penerus dapat menikmati seduhan kopi dan keindahan alam serta keanekaragaman hayati yang Indonesia miliki.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s