Earth Hour, Membiasakan Diri Mengurangi Konsumsi Energi Fosil

Oleh: Amalia Wulansari

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus bertambah. Salah satunya adalah melalui konsumsi listrik yang sebagian besar berasal dari uap pembakaran batu bara di beberapa pembangkit tenaga listrik di Indonesia. Konsumsi listrik dapat dilihat dari konsumsi listrik baik untuk masyarakat maupun industri yang meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi listrik dalam kurun waktu tahun 2000-2013 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,8% per tahun (Outlook Energi Indonesia 2015, BPPT).  Pola konsumeratif masyarakat dengan berkembangnya teknologi meningkatkan kebutuhan listrik masyarakat.

Listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara memberikan kontribusi yang besar terhadap kenaikan jumlah karbon di Atmosfer. Batubara dapat melepaskan 66% lebih banyak karbondioksida per unit energi yang dihasilkan dibandingan dengan Gas Rumah Kaca (GRK) yang lain seperti metana. Dengan fakta tersebut, Komite Parlemen Inggris yang melakukan Pengauditan Lingkungan pada tahun 2008 menyatakan bahwa batubara merupakan sumber energi yang kotor yang dapat memicu terjadinya pemanasan global.

Perubahan iklim sebagai akibat dari pemanasan global memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Kenaikan suhu, kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan kenaikan curah hujan merupakan fenomena yang saat ini sering dirasakan oleh masyarakat. Januari 2016 merupakan bulan terpanas sejak 2001 dengan kenaikan suku rata-rata sekitar 2 derajat celcius dan tahun 2015 merupakan tahun dengan suhu paling panas sejak 2001. (Al Gore, 2016).  iklim yang merata dirasakan oleh penduduk dunia ini merupakan implikasi pola hidup manusia yang cenderung tidak ramah lingkungan dan memproduksi GRK yang akan memicu terjadinya pemanasan global. Konsumsi listrik dari batu bara memberikan andil dalam mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Beberapa upaya telah dilakukan oleh masyarakat dan negara untuk mengurangi dampak serta mengendalikan laju peningkatan kosentrasi karbon dioksida di atmosfer. Salah satunya adalah dengan konversi sumber energi yang bersumber batu bara ke sumber energi lain yang lebih ramah lingkungan dan terbaharukan, seperti energi matahari dan angin. Di Indonesia, energi terbaharukan tersebut masih menjadi kendala karena biaya produksi yang tinggi untuk menginstalasi. Di satu sisi, negara masih memberikan subsidi pembiayaan listrik untuk kelompok tertentu. Hal ini mengakibatkan perkembangan teknologi ramah lingkungan tersebut terkendala. Masyarakat atau pun industri akan lebih memilih menggunakan listrik dibanding berinvestasi banyak untuk energi angin maupun matahari. Indonesia harusnya mampu mengadopsi apa yang dilakukan oleh Jerman yang telah menggunakan 81% kebutuhan listriknya dengan energi terbaharukan, yakni energi matahari dan angin.

Upaya yang lain adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya bersikap ramah lingkungan. Earth Hour, program yang dikampanyekan oleh World Wide Fund (WWF) sejak 2007 ini memberikan kesempatan kepada alam untuk sejenak beristirahat dengan mematikan listrik selama satu jam pada beban puncak. Pada tahun 2016, kampanye Earth Hour jatuh pada tanggal 19 Maret. Pada jam 8.30 – 9.30 malam, masyarakat dihimbau untuk mematikan dan mencabut seluruh perkakas elektroniknya. Kampanye ini diharapkan menjadi triger kepada masyarakat untuk selalu melakukan penghematan konsumsi listrik, yang kemudian menjadi gaya hidup masyarakat.  Edukasi melalui perubahan gaya hidup ini dimulai dengan gerakan di masyarakat. Jika kegiatan seperti Earth Hour ini dilakukan setiap hari, berapa potensi saving energi listrik dan penurunan emisi karbon dalam satu tahun?

Earth Hour bukan saja menjadi moment untuk mengedukasi upaya mitigasi perubahan iklim, lebih jauh lagi gerakan ini mampu memberikan ruang untuk mengembangkan ide terkait upaya mengurangi laju pemanasan global. Di beberapa kota di Indonesia, Earth Hour dikawal oleh generasi muda yang peduli lingkungan. Hal ini merupakan momentum yang tepat untuk memberikan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan bertindak arif terhadap lingkungan, yakni dengan menghemat konsumsi listrik. Mencabut charger handphone yang tidak dipakai akan mengurangi konsumsi 1 watt setiap satu jamnya. Jika ada sekitar 900 titik charger handphone yang dicabut ketika tidak dipakai, berapa potensi listrik yang terbuang yang dapat diselamatkan?

Sebagai ilustrasi penghematan yang terjadi jika 10% dari jumlah penduduk mematikan dua titik lampu selama satu jam adalah di sebuah kota yang berpenduduk 700 ribu rumah adanya penghematan konsumsi listrik sebesar 300 MW dan mengurangi emisi kurang lebih 267 ton CO2. Jumlah ini setara dengan daya serap emisi oleh 267 pohon yang berusia 20 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s