Coastal Life Story

Siang itu, 17 Februari 2017 di Kelurahan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan tampak setumpuk batang kayu bakau (Rhizopora sp.) dan seorang pria menjelang lanjut usia yang masih tampak sibuk memotong kayu bakau yang tersisa menjadi berukuran 1m.

Mbah Rasadi, nama pria tersebut dulunya berprofesi nelayan karena usianya sudah tua dan fisiknya tak kuat lagi, saat ini beliau beralih menjadi penebang pohon bakau. Diakuinya, pohon bakau merupakan pohon terbaik diwilayah pesisir untuk perapian. Pekerjaan tersebut dijalani oleh beliau selama 2 tahun terakhir bersama kelima rekannya. Pak Di’ salah seorang rekannya dulu merupakan petani. Karena lahan pertanian sudah tidak dapat digunakan kembali akibat genangan rob, ia ikut serta menjalani profesi sebagai penebang pohon bakau.

Selama 20 hari kerja, beliau memperoleh potongan kayu bakau sebanyak 25m3. Satu 1m3 (satu cepet) dijual dengan harga Rp 130.000,-. Potongan kayu tersebut diperoleh dari menebang pohon-pohon bakau sebanyak 350 pohon usia 12th. Sebagai modal kerja, beliau membayar kepada pemilik lahan yang ditumbuhi pohon bakau (nebas) dengan harga 600.000,- . Dari aktivitas ini, Mbah Rasadi memperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 500.000,- setelah dipotong biaya tenaga kerja dan biaya angkut.

Kayu bakau ini akan dijadikan kayu bakar dan disetor keberapa industri kerupuk dan industri garmen (memproduksi celana jeans) di Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya.

Sepenggal fragmen di atas menyiratkan sejumlah permasalahan lingkungan yang bisa jadi akan sangat rumit dan memerlukan cara pandang yang lebih menyeluruh. Isu adaptasi perubahan iklim, kemiskinan, pertanian berkelanjutan dan industri bersih adaah beberapa isu yang tergambar dari peristiwa tersebut.

Peristiwa penebangan pohon bakau terebut, jika hanya dilihat sesaat akan muncul justifikasi terkait rendahnya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan. Namun demikian, aktivitas penebangan tersebut terjadi akibat dorongan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan dimana sumber penghasilan sebelumnya tidak lagi dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pesisir Kabupaten Pekalongan, dimana mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan, petambak dan petani pada saat ini tidak lagi dapat menikmati hasil dari aktivitas tersebut. Genangan rob telah merusak lahan pertanian dan menenggelamkan sejumlah tambak. Langkah Mbah Rasadi dan rekan-rekannya secara praktis dapat memberikan penghasilan dalam waktu dekat, namun sekaligus meningkatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap ancaman abrasi dimana mangrove merupakan benteng perlindungan pesisir telah mengalami kerusakan.

Penebangan kayu bakau sendiri juga tidak akan terjadi tatkala industri yang saat ini menggunakan kayu bakau sebagai sumber energy dalam produksi dapat beralih ke mekanisme industri bersih dengan menggunakan sumber energy yang lebih bersih.

Di Indonesia, akan sangat banyak Mbah Rasadi-Mbah Rasadi lain yang juga memerlukan genggaman erat dari seluruh pihak untuk dapat bersama-sama mewujudkan kehidupan yang lebih baik yang salah satunya ditandai oleh kondisi lingkungan yang lebih baik. (KN&AK)

Advertisements

Earth Hour, Membiasakan Diri Mengurangi Konsumsi Energi Fosil

Oleh: Amalia Wulansari

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus bertambah. Salah satunya adalah melalui konsumsi listrik yang sebagian besar berasal dari uap pembakaran batu bara di beberapa pembangkit tenaga listrik di Indonesia. Konsumsi listrik dapat dilihat dari konsumsi listrik baik untuk masyarakat maupun industri yang meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi listrik dalam kurun waktu tahun 2000-2013 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,8% per tahun (Outlook Energi Indonesia 2015, BPPT).  Pola konsumeratif masyarakat dengan berkembangnya teknologi meningkatkan kebutuhan listrik masyarakat.

Listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara memberikan kontribusi yang besar terhadap kenaikan jumlah karbon di Atmosfer. Batubara dapat melepaskan 66% lebih banyak karbondioksida per unit energi yang dihasilkan dibandingan dengan Gas Rumah Kaca (GRK) yang lain seperti metana. Dengan fakta tersebut, Komite Parlemen Inggris yang melakukan Pengauditan Lingkungan pada tahun 2008 menyatakan bahwa batubara merupakan sumber energi yang kotor yang dapat memicu terjadinya pemanasan global.

Perubahan iklim sebagai akibat dari pemanasan global memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Kenaikan suhu, kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan kenaikan curah hujan merupakan fenomena yang saat ini sering dirasakan oleh masyarakat. Januari 2016 merupakan bulan terpanas sejak 2001 dengan kenaikan suku rata-rata sekitar 2 derajat celcius dan tahun 2015 merupakan tahun dengan suhu paling panas sejak 2001. (Al Gore, 2016).  iklim yang merata dirasakan oleh penduduk dunia ini merupakan implikasi pola hidup manusia yang cenderung tidak ramah lingkungan dan memproduksi GRK yang akan memicu terjadinya pemanasan global. Konsumsi listrik dari batu bara memberikan andil dalam mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Beberapa upaya telah dilakukan oleh masyarakat dan negara untuk mengurangi dampak serta mengendalikan laju peningkatan kosentrasi karbon dioksida di atmosfer. Salah satunya adalah dengan konversi sumber energi yang bersumber batu bara ke sumber energi lain yang lebih ramah lingkungan dan terbaharukan, seperti energi matahari dan angin. Di Indonesia, energi terbaharukan tersebut masih menjadi kendala karena biaya produksi yang tinggi untuk menginstalasi. Di satu sisi, negara masih memberikan subsidi pembiayaan listrik untuk kelompok tertentu. Hal ini mengakibatkan perkembangan teknologi ramah lingkungan tersebut terkendala. Masyarakat atau pun industri akan lebih memilih menggunakan listrik dibanding berinvestasi banyak untuk energi angin maupun matahari. Indonesia harusnya mampu mengadopsi apa yang dilakukan oleh Jerman yang telah menggunakan 81% kebutuhan listriknya dengan energi terbaharukan, yakni energi matahari dan angin.

Upaya yang lain adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya bersikap ramah lingkungan. Earth Hour, program yang dikampanyekan oleh World Wide Fund (WWF) sejak 2007 ini memberikan kesempatan kepada alam untuk sejenak beristirahat dengan mematikan listrik selama satu jam pada beban puncak. Pada tahun 2016, kampanye Earth Hour jatuh pada tanggal 19 Maret. Pada jam 8.30 – 9.30 malam, masyarakat dihimbau untuk mematikan dan mencabut seluruh perkakas elektroniknya. Kampanye ini diharapkan menjadi triger kepada masyarakat untuk selalu melakukan penghematan konsumsi listrik, yang kemudian menjadi gaya hidup masyarakat.  Edukasi melalui perubahan gaya hidup ini dimulai dengan gerakan di masyarakat. Jika kegiatan seperti Earth Hour ini dilakukan setiap hari, berapa potensi saving energi listrik dan penurunan emisi karbon dalam satu tahun?

Earth Hour bukan saja menjadi moment untuk mengedukasi upaya mitigasi perubahan iklim, lebih jauh lagi gerakan ini mampu memberikan ruang untuk mengembangkan ide terkait upaya mengurangi laju pemanasan global. Di beberapa kota di Indonesia, Earth Hour dikawal oleh generasi muda yang peduli lingkungan. Hal ini merupakan momentum yang tepat untuk memberikan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan bertindak arif terhadap lingkungan, yakni dengan menghemat konsumsi listrik. Mencabut charger handphone yang tidak dipakai akan mengurangi konsumsi 1 watt setiap satu jamnya. Jika ada sekitar 900 titik charger handphone yang dicabut ketika tidak dipakai, berapa potensi listrik yang terbuang yang dapat diselamatkan?

Sebagai ilustrasi penghematan yang terjadi jika 10% dari jumlah penduduk mematikan dua titik lampu selama satu jam adalah di sebuah kota yang berpenduduk 700 ribu rumah adanya penghematan konsumsi listrik sebesar 300 MW dan mengurangi emisi kurang lebih 267 ton CO2. Jumlah ini setara dengan daya serap emisi oleh 267 pohon yang berusia 20 tahun.

Garang River Race Inventory and Survey Competition

Pelestarian ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) memerlukan peran aktif dari banyak pihak. Memahami dinamika DAS dan sungai itu sendiri sangat diperlukan dalam rangka menemukan upaya penanganan yang tepat.

Bagi generasi muda, mempelajari ekosistem sungai dan sekitarnya merupakan hal yang penting dalam upaya konservasi DAS.

Salah satu inisiatif dari Yayasan Bintari dalam mendorong kepedulian generasi muda dalam konservasi DAS adalah dengan menyelenggarakan “Garang River Race Inventory and Survey Competition.

Mengambil Segmen 2 Sungai Garang, Kelurahan Tinjomoyo Kota Semarang, pada 27 Desember 2014 sebanyak 30 peserta yang berasal dari 6 kelompok pecinta alam dan pengamat burung melakukan kompetisi dalam melakukan monitoring sungai dan inventarisasi keanekaragaman hayati di Sungai Garang dan Sekitarnya.

Menempuh rute sejauh kurang lebih 2 km, peserta memiliki waktu kurang lebih 5 jam untuk melakukan monitoring sungai garang berdasar parameter fisik, kimia maupun biologi. Selain itu, peserta juga melakukan pemantauan keanekaragaman hayati seperti kupu-kupu, capung, burung dan tanaman air. Identifikasi permasalahan di sekitar sungai juga menjadi salah satu hal yang diamati.

Pada akhir kegiatan, seluruh peserta melakukan penanaman Bambu Petung (Dendrocalamus asper) sebagai upaya konservasi tebing sungai yang terancam oleh erosi.

Di akhir kompetisi, terpilih Kelompok Pecinta Alam (KPA) Argapeta dari SMK 7 kota Semarang sebagai Best Racer dan Green Community Unnes sebagai Best Observer.

Seluruh peserta menyambut antusias program ini, dan berharap agar aktivitas serupa dapat menjad agenda tahunan bagi kelompok-kelompok pecinta alam dan pemerhati lingkungan lainnya.

Climate Risk Assessment (CRA) Kota Mataram

Yayasan Bintari, bersama dengan Mercy Corps Indonesia melalui dukungan pendanaan dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) melakukan fasilitasi penyusunan Dokumen Kajian Risiko Perubahan Iklim di Kota Matram, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 23-27 Nopember 2015.

Bertempat di Ruang Pertemuan Bappeda Kota Mataram, Tim SKPD Kota Mataram yang terdiri dari unsur BLH, Bappeda, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pemadam Kebakaran secara intensif merumuskan risiko iklim yang berpotensi mengancam Kota Mataram.

Berdasarkan hasil proyeksi iklim Kota Banjarmasin dengan menggunakan Global Climate Model (GCM) diketahui bahwa curah hujan bulanan sedang (<300 mm per bulan) akan semakin sering berpeluang terjadi (kurang dari sepuluh tahun). Akan tetapi curah hujan yang tinggi (>300 mm per bulan) akan terjadi dalam jangka waktu lebih lama (lebih dari 20 tahun).

Kondisi tersebut diperkirakan akan mempengaruhi peningkatan tigabelas jenis bahaya yang berhubungan dengan iklim, diantaranya; Penyakit DBD, Diare, ISPA, Banjir Bandang, Banjir Rob, Angin Ribut, Abrasi, Angin Puting Beliung, Kekeringan, Gagal tanam, Gagal Panen, Longsor dan Kerusakan Ekosistem.

Berdasarkan hasil Identifikasi lapangan dan data dari SKPD terkait, DBD menjadi bahaya iklim yang menempati prioritas utama di Kota Mataram. Terdapat satu kelurahan dari total 50 kelurahan di Kota Mataram yang tergolong dalam katagori Agak Bahaya. Sementara itu, ada empat kelurahan lain yang tergolong Kurang Bahaya dan sisanya tergolong tidak berbahaya.

Relatif tingginya kepadatan penduduk di Kota Mataram menyebabkan sejumlah empatbelas kelurahan tergolong dalam katagori sangat rentan. Hasil akhir kajian risiko iklim ini menunukkan bahwa ada tiga kelurahan (Ampenan Selatan, Kebon Sari dan Bintaro yang memiliki tingkat risiko iklim tinggi.

Berdasarkan kajian ini, Kota Mataram akan menyusun dokumen Strategi Ketahanan Kota (City Resilience Strategy-CRS) dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa yang akan dating.

Aku, sahabat DAS Garang

Kali Garang yang membelah Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang tidak  biasanya menjadi ajang beraktivitas anak-anak. Namun siang itu, ia bukan hanya menjadi tempat bermain, namun juga menjadi sumber pengetahuan yang juga tidak biasa bagi 30 anak yang merupakan siswa dari 15 Sekolah Dasar di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS Garang). Kali Garang sendiri merupakan bagian penting dari sebuah wilayah dengan batas alam yang disebut dengan DAS Garang.

DAS Garang meliputi tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang di bagian hulu serta Kota Semarang di bagian tengah hingga hilir. Kondisi Kali Garang merupakan indikator utama dari kesehatan kondisi DAS Garang, baik dari sisi kualitas, kualitas maupun kontinuitas pasokan air yang dihasilkan. Kali Garang menyumbang pasokan air bersih terbesar (37,2%) dari seluruh produksi air PDAM Tirto Moedal Kota Semarang melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kaligarang. Permasalahan degradasi kondisi DAS Garang semakin terasa dengan semakin menurunnya kualitas air di Kali Garang dan terjadinya peristiwa banjir di Kali Garang.

Anak-anak secara naluriah telah memiliki kecintaan kepada sungai. Akan tetapi perilaku masyarakat yang berkembang secara tidak langsung menjauhkan anak-anak dari sungai. Perilaku yang lebih didominasi oleh hal negatif seperti membuang sampah di sungai pada akhirnya membentuk persepsi masyarakat untuk semakin menjauhi sungai.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh seorang Guru yang mendampingi dalam kegiatan pendidikan lingkungan ini. “Wah, ya pas kula alit rumiyin, asring sanget dolanan teng lepen ngaten niki” (Waktu saya kecil dulu, sering sekali bermain di sungai seperti ini). Akan tetapi, sebagai orang tua pada saat ini mereka melarang anak-anaknya untuk bermain di sungai karena kondisi sungai yang tidak lagi sebaik dulu.

Aktivitas pendidikan lingkungan ini merupakan rumusan prototype action yang dihasilkan dari proses peningkatan kapasitas dari Garang Watershed Leadership Program (GWLP) dari Yayasan Bintari dengan dukungan pendanaan dari ERCA Japan serta stakeholder lain di DAS Garang, meliputi BPDAS Pemali Jratun, PDAM Tirto Moedal, PT. Phapros, BLH Provinsi Jawa Tengah, CCROM-IPB, Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Universitas Diponegoro (UNDIP). Upaya peningkatan kapasitas ini dilakukan dalam rangka mendorong kesamaan visi dalam rangka mendukung keterpaduan dalam pengelolaan DAS Garang. Prototype action ini berfungsi untuk membangun model aksi-aksi yang dapat dikembangkan oleh setiap stakeholder dalam mendukung pengelolaan dan pelestarian DAS Garang.

Aktivitas hari itu diisi dengan mengeksplorasi apa sajakah komponen ekosistem di sekitar sungai, dan aktivitas apa sajakah yang dapat menimbulkan kerusakan di sungai, serta aktivitas apakah yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

“Aku, Sahabat DAS Garang!!” begitu teriak anak-anak saat akan mengakhiri aktivitas hari itu. “Apakah teman-teman yakin kondisi Kali Garang akan semakin baik?” Tanya seorang fasilitator sebagai pamungkas. “Ya, kami yakin!!!” jawab anak-anak dengan semangat meski dengan kelelahan mereka.

Kami yakin, tawa riang anak-anak yang bermain di Kali Garang itu akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi Kali Garang.

Note: Artikel ini telah dimuat di blog lain, yang juga merupakan bagian insiatif Yayasan Bintari.

Bangun Karsa Pengelolaan Lingkungan Saka Kalpataru

Semenjak dicanangkan pada tahun 2013, Saka Kalpataru menjadi salah satu Satuan Karya (Saka) wajib di setiap kuartir cabang Pramuka. Saka Kalpataru merupakan wadah guna meningkatkan pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, kecakapan, dan kepemimpinan bagi anggota pramuka usia 16-25 tahun (penegak dan pendega) di bidang kepedulian lingkungan dan rasa tanggung jawab dalam mengelola, menjaga, mempertahankan dan melestarikan lingkungan hidup. Saka Kalpataru dibentuk atas kerjasama antara Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Satuan Karya Pramuka Kalpataru merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang ditandatangani pada tanggal 20 November 2011.

Sesuai dengan mandat tersebut, setiap kwartir cabang di tingkat propinsi dan kabupaten / kota wajib membentuk Saka Kalpataru. Salah satu Saka Kalpataru yang telah terbentuk dan telah melakukan kegiatan peningkatan kapasitas anggotanya adalah Kabupaten Kudus. Di bawah arahan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Kudus, Saka Kalpataru Kabupaten Kudus telah melakukan pengenalan upaya-upaya pengelolaan lingkungan.

Pada tangal 24 – 25 Oktober 2015, Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI) bersama dengan KLH Kudus melakukan kegiatan pengenalan wawasan 3 krida yang menjadi krida wajib Saka Kalpataru yakni Krida 3R, Krida Perubahan Iklim, dan Krida Keanekaragaman Hayati. Kegiatan ini diikuti oleh 42 anggota baru Saka Kalpataru Kabupaten Kudus. Peserta merupakan perwakilan dari lima Sekolah Menengah Tingkat Atas di Kudus yang memiliki motivasi dan ketertarikan di dalam pengelolaan lingkungan. Bertempat di Kantor Lingkungan Hidup, peserta mendirikan tenda di halaman kantor. Selama dua hari, peserta mendapatkan wawasan mengenai saka kalpataru serta 3 krida tersebut.

Hari pertama, peserta diajak memahami bagaimana pemanasan global terjadi dengan melakukan uji coba kenaikan suhu pada air yang diberikan karbon (protecal) dan diletakkan di bawah sinar matahari. Peserta yang dibagi menjadi 7 kelompok kecil berdiskusi sebab-sebab bencana banjir dan longsor yang sering terjadi di Kudus. Pada krida 3R, peserta juga diajak berdialog mengenai alur sampah yang mereka hasilkan setiap harinya baik di dalam sekolah maupun di dalam rumah. Tidak hanya itu, peserta juga diajak untuk mendiskusikan lebih lanjut bagaimana dampak jika sampah tidak dikelola dengan baik. Metode yang dipergunakan untuk melakukan diskusi adalah world cafe, dimana setiap kelompok diberi satu lembar kertas plano dan diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapat mereka di dalam kertas tersebut.

Tidak saja memberikan pengetahuan, kegiatan ini juga mendorong peserta melakukan kreasi dan inovasi dalam mendaur ulang sampah. Setiap sekolah membuat kreasi sampah yang harapannya dapat mengurangi timbunan sampah. Selama 60 menit, peserta membuat kreasi dan kemudian mempresentasikan hasilnya. Hasil kreasi tersebut dikompetisikan untuk memperebutkan piala dari KLH. Berdasarkan kriteria penialaian yakni asas manfaat, kreatifitas, asas marketable; lomba kreasi sampah ini dimenangi oleh SMK Al Islam dan disusul oleh SMK Wisudha Karya, dan SMAN 2 Kudus.

Di hari kedua, peserta diajak untuk belajar di alam yakni di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Rejo. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok besar untuk mengamati keanekaragaman di TPA, di kebun jagung, dan di kebun rakyat. Selama 120 menit, peserta mengamati keanekaragaman flora dan fauna dan kemudian mempresentasikan hasil temuan mereka. Dari hasil temuan tersebut, ada perbedaan yang cukup mencolok terkait keanekaragaman hayati yang ada di masing-masing ekosistem. Kelompok di kebun rakyat menemukan lebih banyak flora dan fauna di dalamnya.

Kegiatan ini menjadi motivasi anggota baru Saka Kalpataru untuk terus aktif dalam melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan. Sesuai dengan kesepakatan, peserta kegiatan ini akan bertemu lagi dan membahas tindak lanjut pada hari Rabu, 28 Oktober 2015. Langkah KLH Kudus ini patut diapresiasi karena telah bersinergi dengan pihak-pihak terkait untuk melestarikan lingkungan. (aw)

Kopi, Manusia dan Lingkungan

Oleh: Khairi Nurokhim

Kopi merupakan suatu kata yang menunjuk (lebih sering didengar) pada suatu jenis minuman meskipun sebenarnya kata tersebut lebih tepat dan lebih benar menunjuk pada beberapa jenis tanaman penghasil buah kopi (bahan baku minuman kopi). Minuman kopi sendiri sudah dikenal oleh manusia sejak berabad-abad yang lalu dan mulai berkembang di eropa dengan munculnya cafe yang diambil dari kata coffee (penyebutan kopi di eropa) itu sendiri.  Sementara di Indonesia kopi baru dikenal sejak zaman kolonial belanda dimana belandalah yang membawa dan membudidayakan tanaman tersebut secara besar-besaran diseluruh indonesia dikarenakan kopi termasuk salah satu komoditi perdagangan utama di eropa. Namun demikian sebenarnya kita tidak benar-benar dapat menikmati minuman kopi itu sendiri pada saat itu bahkan mungkin sampai saat ini. Saat itu belanda membudidayakan kopi jenis arabika, robusta dan liberika (hasil persilangan antara arabika & robusta) pada awalnya. Namun karena dinilai kopi jenis liberika tidak menjanjikan maka beberapa tahun kemudian belanda memusnahkan hampir seluruh perkebunan kopi jenis tersebut di Indonesia.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ketiga didunia saat ini setelah Brazil dan Vietnam. Data ICCRI pada tahun 2011 mencatat bahwa produksi kopi indonesia mencapai 600 ribu ton/tahun dengan 80%nya dihasilkan dari perkebunan rakyat dan memeliki kecenderungan untuk bertambah seiring masifnya perkembangan perkebunan kopi baru di Indonesia. Nilai ekspor kopi indonesia mencapai US $ 420,177,469 per april 2013, yang terdiri dari ekspor biji kopi, kopi instan maupun olahan kopi lainnya [aeki, 2013]. Dari ketiga varian produk ekspor tersebut nilai terbesar ialah pada ekspor biji kopi yakni senilai US $ 334,122,728 sementara nilai ekspor terkecil pada varian hasil olahan lainnya yakni senilai US $ 2,051,180. Perkembangkan kopi yang prospektif juga bisa dilihat dari perkembangan harga kopi dunia yang terus meningkat sejak tahun 2002 (lihat grafik disamping) meskipun pada tahun 2012 harga kopi baik arabika maupun robusta mengalami penurunan. Pada grafik disamping jenis kopi robusta mengalami kenaikan harga tertinggi pada tahun 2011 yakni mencapai US $ 5652/ton.

Pembudidaya tanaman kopi umumnya ialah masyarakat pegunungan atau dataran tinggi yang secara kebetulan berbatasan dengan hutan atau kawasan hutan meskipun sebetulnya secara ekogeografi tanaman kopi memiliki distribusi atau wilayah persebaran yang cukup luas yakni mulai dari ketinggian 0 mdpl-2000 mdpl. Beberapa jenis memang membutuhkan kriteria tertentu untuk bisa tumbuh secara optimal seperti jenis arabika yang dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian diatas 1000 mdpl. Iklim dan tanah juga mempengaruhi pertumbuhan kopi secara optimal. salah satu unsur iklim yang sangat berpengaruh ialah curah hujan . Menurut Niken (staff Puslit KOKA) curah hujan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan kopi yakni antara 1500-2000 mm/th. Ia membagi beberapa kriteria yang sesuai untuk pertumbuhan kopi berdasarkan intensitas air hujan yakni S1, S2, S3 dan N. S1 maksudnya ialah daerah dengan curah hujan 1500-2000 mm/th dan daerah tersebut sangat sesuai untuk menunjang pertumbuhan kopi secara maksimal. S2 merupakan daerah dengan curah hujan antara 1250-1500 mm/th dan merupakan daerah sesuai. Sementara S3 merupakan daerah dengan curah hujan 1000-1250 mm/th dan merupakan daerah kurang sesuai bagi pertumbuhan kopi sedangkan daerah dengan kriteria N ialah daerah dengan curah hujan dibawah 1000 mm/th dan merupakan daerah yang tidak sesuai.

Wilayah penghasil kopi di Jawa Tengah antara lain ialah Bawen (Kebun Kopi Banaran-PTPN IX), Indrokilo (Perkebunan Rakyat-Ungaran), Banyuwindu (Perkebunan Rakyat-Limbangan), Petung Kriyono (Perkebunan Rakyat-Pekalongan), Tlahap (Perkebunan Rakyat-Temanggung) dan beberapa tempat lainnya. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah yang berada pada ketinggian 600-1300an mdpl.

Kopi merupakan komoditi yang lekat dengan kehidupan masyarakat pegunungan bahkan merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi mereka. Kopi merupakan salah satu minuman yang tidak boleh tidak ada dan selalu dijumpai dalam setiap aktivitas sosial masyarakatnya baik itu kongko-kongko, rembug warga, maupun sebagai jamuan. Hampir setiap keluarga di wilayah pegunungan (meskipun sering juga dijumpai diwilayah lain) memiliki persediaan kopi bubuk baik dalam bentuk original tanpa campuran maupun dalam bentuk campuran dan sebagai bahan campuran biasanya digunakan jagung, beras dan jahe. Bahkan beberapa warga biasaya memiliki simpanan kopi dalam bentuk kopi beras yakni biji kopi yang masih terbungkus kulit ari (kulit tanduk) maupun dalam bentuk biji kopi siap sangrai. Kopi juga memberikan kesempatan bekerja bagi masyarakat sekitar sebagai tenaga petik kopi saat memasuki musim panen terutama saat musim panen raya yang biasanya jatuh pada bulan Juli-Agustus. Begitu tak terpisahkannya kopi dalam kehidupan masyarakat kita sampai-sampai banyak kajian, tulisan dan karya yang berkaitan dengan minuman tersebut atau sengaja mengkaitkannya meskipun tidak memiliki hubungan sama sekali. Diatara banyak kajian/ karya tersebut salah satunya ialah Filosi Kopi sebuah novel karya Dewi Lestari yang baru-baru ini telah difilmkan dengan judul yang sama dan telah rilis pada april 2015. Bisa disebut ngopi (bukan duplikasi) adalah bagian dari kebudayaan kita.

Perkembangan kopi saat ini sangat pesat bahkan permintaan dunia atas komoditi kopi terus meningkat dari tahun ketahun bahkan diprediksi terus meningkat seiring dengan bertambahnya penikmat kopi. Lihat grafik berikut (googling dulu). Dengan pertumbuhan pasar yang sedemikian pesat maka akan mendorong banyak pihak terutama petani kopi sendiri untuk membuka lahan guna memperluas areal perkebunan kopi dan meningkatkan produktivitasnya dengan berbagai cara meskipun hal itu tidak ramah lingkungan. indikasinya sudah ada antara lain pembukaan hutan, alih fungsi lahan dan penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya seperti penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Sementara itu para petani kopi saat ini belum mempraktekan sistem pengelolaan kopi yang zero waste atau clear coffee management yakni suatu sistem pengelolaan kebun kopi yang mendasarkan pada prinsip efisien, efektif, dan hemat energi serta renewable seperti pemanfaatan limbah kopi sebagai kompos, pakan ternak atau lainnya dan dalam pengolahan biji kopinya harus hemat energi. Dengan kata lain tantangan selanjutnya ialah bahwa praktek pengolahan kopi belum ramah lingkungan dan belum menjamin keberlanjutannya bagi kehidupan masyarakat dan petani itu sendiri.

Perluasan kebun kopi yang masif dengan pembukaan hutan (deforestrasi) dan alih fungsi lahan akan berdampak buruk bagi lingkungan, keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia itu sendiri. Kebiasaan yang terjadi dimasyarakat/ petani kopi yang tinggal dan hidup berdampingan dengan hutan ialah mereka cenderung menebang pohon dalam upaya eks/intensifikasi budidaya tanaman kopinya. Mereka berpendapat bahwa tanaman kopi membutuhkan area yang tenggar atau terbuka sehingga cahaya dari sinar matahari dapat menyinari tanamannya. Pendapat semacam ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan sebenarnya tanaman kopi membutuhkan tanaman pelindung sebagai peneduh untuk mengatur kelembaban dan intensitas cahaya matahari yang masuk serta sebagai pelindung dari terpaan angin. Selain itu dengan adanya tanaman pelindung mampu mengurangi emisi carbon yang memberikan kontribusi terhadap pengurangan peningkatan suhu dan perubahan iklim secara global. Hasil penelitian Cacho et al tahun 2003 menyatakan bahwa laju penyerapan carbon diareal perkebunan kecil dan perkebuanan agroforestry secara berkelanjutan di negara tropis mencapai 1,5-3,5 ton C/ha/tahun. sementara menurut Hairiah (2010) dalam Panduan Sekolah Lapangan: Budidaya Kopi Konservasi (CI-Indonesia, 2011) menyatakan bahwa kemampuan perkebunan kopi dalam menyimpan karbon dapat mencapai 100 ton/ha dan dapat ditingkatkan dengan penanaman tanaman pelindung dengan lebih variatif.

Hal ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang kliru atau kurang dipahami oleh masyarakat/ petani dalam hal pembudidayaan tanaman kopi. Kejadian ini saya lihat sendiri dibeberapa lokasi seperti di Banyuwindu dan Indrokilo. Berkurangnya luasan hutan atau hilanganya tegakan akan mempengaruhi daya serap dan daya ikat suatu wilayah terhadap air dan tanah yang berdampak pada terjadinya banjir dan tanah longsor. Dampak lainnya ialah terancam dan berkurangnya keanekaragaman hayati diwilayah tersebut atau terjadinya ledakan populasi suatu jenis akibat hilangnya satu mata rantai ekosistem. Cerita dari masyarakat/ petani di Indrokilo saat wokshop education for sustainable agriculture beberapa waktu lalu di Balai Tani APVASI Gunungpati Semarang ialah bahwa salah satu issue yang menjadi prioritas utama mereka ialah adanya serangan hama monyet dan babi hutan diareal perkebunan mereka sebagai akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi dan cengkeh.

Kebiasaan lainnya ialah perilaku penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya (sapro) yang antara lain ialah pupuk dan pestisida kimia dimana residu dari bahan-bahan kimia tersebut akan terbawa aliran air hujan dan terakumulasi didalam buah. Dampaknya ialah terjadi pencemaran air dan tanah serta hilangnya pemangsa (predator) alami dan organisme pengurai yang hidup didalam tanah. Akibatnya tanah menjadi keras dan tidak subur serta mengubah struktur fisik tanah yang dikemudian hari justru akan merugikan petani sendiri karena lahan sulit untuk ditanami lagi. Dampak dari pencemaran air ialah berkurangnya sumber bahan baku air minum dan hilangnya plasma nutfah air tawar (freshwater biodiversity) sebagai akibat rusaknya ekosistem air tawar.

Dalam skala pengolahan hilir kopi (produksi kopi bubuk) kebanyakan masyarakat/ petani kopi masih menggunakan cara-cara tradisional yang kurang ramah lingkungan seperti pada proses penyangraian biji kopi yakni masih menggunakan bahan baku kayu bakar sebagai sumber pengapian. Jika hal ini tidak dilakukan dengan menejemen pengolahan hasil hutan kayu secara baik dan bijak tentu akan berdampak negatif terhadap luasan hutan dan sumber daya alam yang ada. Pengelolaan limbah dari pengolahan kopi seperti limbah kulit dan air sisa cucian/peraman biji kopi (dalam proses basah) juga belum ada sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Untuk itu seyogyanya harus kita pikirkan secara bersama bagaimana upaya membudidayakan tanaman kopi secara berkelanjutan dengan prinsip-prinsip clear coffee management and zero waste (CCM-Zero) mengingat komoditi kopi merupakan salah satu komoditi yang sangat menjanjikan dimasa depan sehingga anak-anak kita dan genarasi penerus dapat menikmati seduhan kopi dan keindahan alam serta keanekaragaman hayati yang Indonesia miliki.