Utopia Bernama Kota Hijau

Jpeg
Taman kota di Semarang, yang penuh dengan sampah. Taman sebagai salah satu upaya mewujudkan kota hijau

Indonesia sebagai negara yang terletak di cincin api dunia berisiko penuh terhadap bencana alam seperti gunung meletus dan gempa bumi. Bencana tersebut merupakan bencana alam yang tidak dapat dihindari. Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting dalam menghadapi ancaman-ancaman tersebut. Di satu sisi, bencana alam yang disebabkan oleh aktivitas manusia juga telah mengancam masyarakat global, tak terkecuali penduduk Indonesia. Bencana yang sering disebut dengan bencana antropogenik tersebut merupakan akibat rusaknya sistem iklim. Aktivitas manusia yang cenderung mengeksploitasi alam dan tanpa mempertimbangkan daya dukung alam sangat berkontribusi terhadap perubahan iklim. Meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil sejak revolusi industri di negara maju telah meningkatkan jumlah karbon di atmosfer. Jumlah yang melebihi ambang batas tersebut telah memerangkap bumi dalam pemanasan global. Karena sifatnya yang global, negara yang tidak begitu berkontribusi pada kenaikan karbon seperti Indonesia dan negara berkembang lainnya menerima dampaknya.

Analisa menyebutkan terjadi kenaikan curah hujan di Jakarta sebesar 100 mm pada periode 1955-1985 dibanding pada periode 1885-1915 (Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap, BAPPENAS: 2010). Kenaikan curah hujan pada 1990 – 2020 di Jawa-Bali diprediksi naik pada bulan Desember – Maret. Melihat data tersebut, bencana banjir yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota seperti Pekalongan merupakan implikasi dari naikknya curah hujan. Hal tersebut tentunya diperburuk dengan kondisi lingkungan kota yang sudah rusak dimana ruang-ruang terbuka untuk resapan air mulai berkurang.

Dampak lainnya adalah naiknya permukaan air laut. Kota-kota pesisir seperti Jakarta, Bandar Lampung, Pekalongan, dan Semarang sudah menerima dampaknya. Rerata akan terjadi kenaikan sebesar 0,6 cm/tahun – 0,8 cm/tahun hingga 2030 jika tidak dilakukan intervensi untuk mengurangi dampak. Besaran tersebut tergantung juga dengan kondisi pembangunan dan kebijakan di masing-masing kota. Jangkauan dan frekuensi rob semakin tahun semakin besar, seperti halnya Semarang yang juga diperburuk dengan penurunan muka tanah.

Pembangunan yang masiv melipatgandakan dampak perubahan iklim yang diterima oleh masyarakat. Dalam sebuah lingkup kota atau daerah, pembangunan yang kurang memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan alam berpotensi besar menimbulkan kerugian baik ekonomi, ekologi, maupun sosial untuk masyarakat. Tingkat urbanisasi yang tinggi menjadikan kota penuh sesak dan seringkali memunculkan permasalahan lingkungan seperti timbulan sampah. Kota pun harus menanggung beban lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berat. Kebutuhan perumahan dan fasilitas umum meningkat sehingga pembukaan lahan untuk perumahan di wilayah-wilayah konservasi pun terjadi. Dalam sebuah kajian berjudul Asian Green City Index, yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit dan disponsori oleh Siemens, Jakarta masih memiliki permasalahan yang buruk di sektor sampah, Secara keseluruhan, Singapore menjadi kota dengan indeks kota hijau tertingga se-Asia.

Komunitas Hijau dalam Kota Hijau

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pekerjaan Umum untuk mewujudkan kota hijau, adalah dengan progam pengembangan kota hijau. Ada 8 parameter kota hijau, yakni green transportation, green building, green community, green waste, green planning and design, green open space, green water, dan green energy. Inisiasi yang bagus untuk menjadikan kota hijau.

Dalam mencapai kota hijau, titik kunci berada di peran komunitas hijau untuk terus melakukan advokasi kepada pemerintah dalam menyediakan ruang terbuka hijau sesuai dengan amanat Undang-Undang, yakni 30%. Keterlibatan komunitas hijau ini mampu menjadi virus-virus yang memberikan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat luas akan pentingnya berperilaku ramah lingkungan. Keberadaan komunitas hijau ini perlu didorong dengan ruang publik yang nyaman. Komunitas hijau ini dapat menjadi corong untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mendorong penegakan hukum terkait pelanggaran lingkungan.

Perencana kota pun harus memiliki pandangan ke depan terkait kebutuhan masyarakat akan ruang-ruang untuk berinteraksi.Amanda Burden, kepala perencana kota di bawah Administrasi Bloomberg, Blooklyn, AS mengatakan bahwa seorang perencana kota harus lebih banyak mendengarkan akan kebutuhan publik dalam suatu kota. “Ruang publik dan ruang terbuka hijau adalah tempat dimana anda akan senang pergi ke sana, dimana anda dapat menemukan dengan mudah tempat duduk yang nyaman”, kata Amanda. Dalam merencanakan sebuah kota, humanity sense menjadi yang utama terutama dalam menciptakan ruang-ruang terbuka karena ruang ini memiliki kekuatan. Adanya ruang terbuka yang nyaman menjadi pertimbangan orang dalam memilih sebuah kota untuk menjadi tempat tinggal.

Selain menjadi ruang berinteraksi, Ruang Terbuka Hijau (RTH) ini menjadi wilayah untuk peresapan air, hutan kota yang mampu menyerap emisi karbon yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. RTH tidak saja memberikan nilai lingkungan, akan tetapi juga memberikan nilai ekonomi dan sosial masyarakat kota.

Holistic approach dalam perencanaan dan pembangunan kota juga harus terlembaga tidak saja pada perencana kota akan tetapi juga pemerintah daerah / kota. Dengan menggunakan kacamata helikopter, pemerintah dapat mempertimbangkan setiap pembangunan yang akan dilakukan. Tidak hanya mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga harus mempertimbangkan keseimbangan alam, aspek sosial dalam pembangunan. Pemerintah harus mampu melihat skenario ke depan dalam merencanakan, tidak sepotong-potong dan spontanius. Pemimpin yang bervisi “hijau” menjadi syarat mutlak mencapai kota hijau.

Untuk bisa mempercepat pencapaian kota hijau, sinergistas dengan stakeholders terutama dengan swasta dan akademi perlu dikedepankan. Sinergitas tidak lagi menggunakan pertanyaan, “apa masalahnya”, akan tetapi lebih pada pertanyaan, “potensi apa yang anda punya?” akan lebih efektif dalam merangkul seluruh stakeholders di kota. Hari Bumi kali ini bertema Green City, harus mampu mulai merubah paradigma pemerintah dan stakeholders kota dalam pengelolaan lingkungan yang lebih “berkemanusiaan” bagi penghuninya. (aw)

Advertisements

Pendidikan yang Menghubungkan Manusia dan Alam

DSC_0139Fenomena bencana alam akibat perubahan cuaca, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Banjir, longsor, kekeringan seakan-akan telah menjadi kejadian langganan yang harus diterima oleh manusia dan makhluk hidup saat ini. Bencana-bencana akibat perubahan iklim terus meningkat dari tahun ke tahun akibat terus meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer yang mengakibatkan pemanasan global dan memicu perubahan iklim.
Tercatat, banjir bandang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia pada tahun 2016. Sebut saja Garut, Bandung, dan Gorontalo. Beberapa bencana iklim lainnya pun sering terjadi dan berdampak yang tidak kecil, seperti tanah longsor, hujan lebat disertai angin kencang, dan gelombang tinggi yang memicu storm tide di Pantai Barat Sumatra, Selatan Jawa hingga Lombok (Jawa Pos, Sabtu 7 Januari 2017).

Di beberapa wilayah, seperti Semarang, Pekalongan, dan Jakarta; rob menjadi bencana yang sering dan akan mengancam kehidupan masyarakat di pesisir. Resiko lain yang juga akan dirasakan oleh Indonesia adalah keanekaragaman hayati. Dampak yang cukup parah juga akan sering dialami, seperti produktivitas pertanian, perikanan, dan kehutanan yang akan mengancam ketahanan pangan serta kelangsungan hidup. (PEACE. Indonesia and Climate Change: Current Status and Policies, 2007).

Menurut catatan dalam Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan Indonesia (2016), kejadian banjir naik menjadi 2,3 kali lipat; tanah longsor naik hingga 4,8 kali lipat. Banjir berdampak lebih banyak dan mengakibatkan kerugian yang lebih banyak dibanding dengan bencana klimatologi lainnya. Dampak yang paling parah dirasakan di Pulau Jawa. Frekuensi kejadian banjir di Pulau Jawa naik hingga 2,8 kali lipat. Bandung, Garut, Bonjonegoro, Tuban, Pasuruan, Cilacap, Demak, dan Pati merupakan daerah di Jawa yang setiap tahun mengalami kejadian banjir. Sedangkan kejadian tanah longsor di Pulau Jawa mengalami kenaikan 5 kali lipat.

Naiknya curah hujan mengakibatkan hujan lebat yang itu memperbesar resiko kejadian banjir dan longsor. Kerugian dan kerusakan lebih besar dirasakan oleh masyarakat karena rusaknya jaringan transportasi, gagal panen karena tanaman pangan rusak, serta ancaman penghidupan yang rentan. Dampak yang paling parah dari bencana tersebut terhentinya aktivitas ekonomi produktif. Akan tetapi, hal itu sepertinya belum menjadi perhatian kita ketika bencana terjadi.

Fokus kerugian dan kerusakan akibat bencana masih berada pada kerusakan fisik. Tak pernah sekalipun kemudian pemerintah menghitung berapa kerugian ekonomi karena macet di pesisir Utara Jawa seperti Semarang, macet akibat genangan rob. Keterlambatan pengiriman barang dan konsumsi bahan bakar belum pernah dihitung akibat rob dan macet.

Kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim menjadi fokus yang serius sejak Conference On Parties (COP) di Warsawa. Negara-negara terdampak diharamkan mampu menghitung seluruh kerugian dan kerusakan akibat bencana “slow onset” perubahan iklim seperti kenaikan suhu, kenaikan muka air laut. Indonesia sebagai negara kepulauan tentu saja mengalami kerugian yang besar karena memiliki banyak wilayah di pesisir. Dari angka kerugian dan kerusakan, negara-negara ANEX 1 berkewajiban membantu masyarakat terkena dampak untuk tetap bisa menjalankan kehidupannya.

Akan tetapi, mekanisme kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim sepertinya akan tersendat dengan mundurnya Amerika dari Paris Agreement. Target penurunan emisi karbon Amerika 26-28% yang telah ditetapkan oleh Obama telah dibatalkan oleh Trump di pertemuan G7, awal Mei ini.

Kembali ke Alam, Menjaga Masa Depan
Rakusnya manusia telah mengakibatkan kerusakan sumber daya alam di bumi. Perilaku konsumtif yang menjadikan orang berupaya memenuhi kebutuhan. Salah satunya dengan melakukan ekstraksi dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Kerusakan lingkungan dan perilaku yang konsumtif inilah yang memicu kenaikan konsentrasi GRK dan mengakibatkan perubahan iklim. Ekstraksi hutan untuk mengambil minyak dan kemudian dipergunakan untuk aktivitas manusia dan industri memicu kenaikan emisi karbon. Di satu sisi, hutan sebagai penyerap karbon tidak mampu melakukan fungsinya.

Pola pikir dan perilaku yang cenderung destruktif tersebut merupakan hasil pendidikan karakter yang kurang kuat dan memperhatikan kelangsungan masa depan. Semenjak revolusi industri Prancis, isu dan ideologi materialisme seakan-akan menjadi tujuan utama pendidikan. Pendidikan dipergunakan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya dengan melakukan ekstraksi sumber daya alam. Anak-anak diajari untuk bisa mendapatkan materi tanpa diberikan pemahaman mengenai konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Kurangnya kesadaran kritis di kalangan terpelajar mengenai pentingnya membangun dengan memperhatikan daya dukung alam mengakibatkan pembangunan hanya bertumpu pada manfaat ekonomis. Pendidikan saat ini belum memberikan kemampuan untuk berfikir sebab – akibat. Hasilnya, kita belum mampu mengambil keputusan yang lebih bijak dalam mengelola lingkungan dan sumber daya yang ada. Mengambil keputusan yang memberikan manfaat kepada semua di masa sekarang dan masa yang akan datang, bukan manfaat untuk kita saat ini saja. Tidak saja materialistis, tapi juga egosentris. Prinsip Not In My Backyard (NIMB) sepertinya juga menjadi keluaran pola pikir pendidikan saat ini.

Di satu sisi, anak-anak tidak memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk mengenali apa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, sumber daya alam apa yang ada di sekitar kita. Tak ada kesempatan bagi mereka dan kita untuk terhubung dengan alam. Richard Louv dalam bukunya The Last Child in the Woods berkata fenomena ini disebut dengan “nature-deficit disoder”. Pendidikan keluarga modern saat ini telah berubah sangat dramatis dalam dua dekade saat ini. Keluarga terutama anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton televisi dan bermain dengan komputer dan gawai.

Sesuai dengan teman Hari Lingkungan Hidup Dunia, 5 Juni 2017, “Connecting To Nature”, ada sebuah harapan untuk mengembalikan kitoh pendidikan kepada menciptakan manusia yang bertanggung jawab terhadap alam semesta. Pendidikan yang memberikan ruang dan waktu kepada anak untuk terhubung langsung dengan alam, mengapresiasi keindahan dan kemanfaatannya, serta mengajak untuk menjaga dan merawat bumi. Pendidikan bisa saja pendidikan formal, non formal, maupun informal.

Pendidikan di seluruh sektor terutama pendidikan formal dan informal (keluarga) harus senantiasa mengedepankan anak untuk bisa mengenali secara langsung lingkungan mereka. Jangan sampai mereka hanya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Ujian Kenaikan Kelas tanpa melihat kenyataannya. Memperbanyak observasi di alam akan memberikan kemampuan kritis kepada anak. Biarkan anak secara bebas mengeksplorasi alam serta biarkan anak bertanya sebanyak-banyaknya untuk memberi ruang berfikir. Kita adalah bagian dari alam, bukan makhluk hidup yang terpisah dari alam. Dengan demikian, anak akan memiliki satu kesatuan dan rasa tanggung jawab terhadap alam. Alam adalah rangkaian siklus dalam kehidupan manusia.

Dengan kembali ke alam, perilaku destruktif terhadap alam diharapkan tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Bencana perubahan iklim dapat dikurangi dengan merubah sistem pendidikan yang mengedepankan pada kesatuan alam.

Sumber pustaka
The Natural Learning Initiative. Benefits of Connecting Children with Nature: Why Naturalize Outdoor Learning Environments

Louv, Richard. Last Child in the Woods: Saving Our Children From Nature-Deficit Disorder. Algonquin Books of Chapel Hill, 2008

PEACE. Indonesia and Climate Change: Current Status and Policies, 2007

Jawa Pos, Sabtu 7 Januari 2017

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan Indonesia, Fokus Utama : Musim Banjir, 2016

Earth Hour, Membiasakan Diri Mengurangi Konsumsi Energi Fosil

Oleh: Amalia Wulansari

Konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia terus bertambah. Salah satunya adalah melalui konsumsi listrik yang sebagian besar berasal dari uap pembakaran batu bara di beberapa pembangkit tenaga listrik di Indonesia. Konsumsi listrik dapat dilihat dari konsumsi listrik baik untuk masyarakat maupun industri yang meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi listrik dalam kurun waktu tahun 2000-2013 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,8% per tahun (Outlook Energi Indonesia 2015, BPPT).  Pola konsumeratif masyarakat dengan berkembangnya teknologi meningkatkan kebutuhan listrik masyarakat.

Listrik yang dihasilkan dari pembakaran batu bara memberikan kontribusi yang besar terhadap kenaikan jumlah karbon di Atmosfer. Batubara dapat melepaskan 66% lebih banyak karbondioksida per unit energi yang dihasilkan dibandingan dengan Gas Rumah Kaca (GRK) yang lain seperti metana. Dengan fakta tersebut, Komite Parlemen Inggris yang melakukan Pengauditan Lingkungan pada tahun 2008 menyatakan bahwa batubara merupakan sumber energi yang kotor yang dapat memicu terjadinya pemanasan global.

Perubahan iklim sebagai akibat dari pemanasan global memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Kenaikan suhu, kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan kenaikan curah hujan merupakan fenomena yang saat ini sering dirasakan oleh masyarakat. Januari 2016 merupakan bulan terpanas sejak 2001 dengan kenaikan suku rata-rata sekitar 2 derajat celcius dan tahun 2015 merupakan tahun dengan suhu paling panas sejak 2001. (Al Gore, 2016).  iklim yang merata dirasakan oleh penduduk dunia ini merupakan implikasi pola hidup manusia yang cenderung tidak ramah lingkungan dan memproduksi GRK yang akan memicu terjadinya pemanasan global. Konsumsi listrik dari batu bara memberikan andil dalam mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Beberapa upaya telah dilakukan oleh masyarakat dan negara untuk mengurangi dampak serta mengendalikan laju peningkatan kosentrasi karbon dioksida di atmosfer. Salah satunya adalah dengan konversi sumber energi yang bersumber batu bara ke sumber energi lain yang lebih ramah lingkungan dan terbaharukan, seperti energi matahari dan angin. Di Indonesia, energi terbaharukan tersebut masih menjadi kendala karena biaya produksi yang tinggi untuk menginstalasi. Di satu sisi, negara masih memberikan subsidi pembiayaan listrik untuk kelompok tertentu. Hal ini mengakibatkan perkembangan teknologi ramah lingkungan tersebut terkendala. Masyarakat atau pun industri akan lebih memilih menggunakan listrik dibanding berinvestasi banyak untuk energi angin maupun matahari. Indonesia harusnya mampu mengadopsi apa yang dilakukan oleh Jerman yang telah menggunakan 81% kebutuhan listriknya dengan energi terbaharukan, yakni energi matahari dan angin.

Upaya yang lain adalah dengan melakukan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya bersikap ramah lingkungan. Earth Hour, program yang dikampanyekan oleh World Wide Fund (WWF) sejak 2007 ini memberikan kesempatan kepada alam untuk sejenak beristirahat dengan mematikan listrik selama satu jam pada beban puncak. Pada tahun 2016, kampanye Earth Hour jatuh pada tanggal 19 Maret. Pada jam 8.30 – 9.30 malam, masyarakat dihimbau untuk mematikan dan mencabut seluruh perkakas elektroniknya. Kampanye ini diharapkan menjadi triger kepada masyarakat untuk selalu melakukan penghematan konsumsi listrik, yang kemudian menjadi gaya hidup masyarakat.  Edukasi melalui perubahan gaya hidup ini dimulai dengan gerakan di masyarakat. Jika kegiatan seperti Earth Hour ini dilakukan setiap hari, berapa potensi saving energi listrik dan penurunan emisi karbon dalam satu tahun?

Earth Hour bukan saja menjadi moment untuk mengedukasi upaya mitigasi perubahan iklim, lebih jauh lagi gerakan ini mampu memberikan ruang untuk mengembangkan ide terkait upaya mengurangi laju pemanasan global. Di beberapa kota di Indonesia, Earth Hour dikawal oleh generasi muda yang peduli lingkungan. Hal ini merupakan momentum yang tepat untuk memberikan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan bertindak arif terhadap lingkungan, yakni dengan menghemat konsumsi listrik. Mencabut charger handphone yang tidak dipakai akan mengurangi konsumsi 1 watt setiap satu jamnya. Jika ada sekitar 900 titik charger handphone yang dicabut ketika tidak dipakai, berapa potensi listrik yang terbuang yang dapat diselamatkan?

Sebagai ilustrasi penghematan yang terjadi jika 10% dari jumlah penduduk mematikan dua titik lampu selama satu jam adalah di sebuah kota yang berpenduduk 700 ribu rumah adanya penghematan konsumsi listrik sebesar 300 MW dan mengurangi emisi kurang lebih 267 ton CO2. Jumlah ini setara dengan daya serap emisi oleh 267 pohon yang berusia 20 tahun.

Kopi, Manusia dan Lingkungan

Oleh: Khairi Nurokhim

Kopi merupakan suatu kata yang menunjuk (lebih sering didengar) pada suatu jenis minuman meskipun sebenarnya kata tersebut lebih tepat dan lebih benar menunjuk pada beberapa jenis tanaman penghasil buah kopi (bahan baku minuman kopi). Minuman kopi sendiri sudah dikenal oleh manusia sejak berabad-abad yang lalu dan mulai berkembang di eropa dengan munculnya cafe yang diambil dari kata coffee (penyebutan kopi di eropa) itu sendiri.  Sementara di Indonesia kopi baru dikenal sejak zaman kolonial belanda dimana belandalah yang membawa dan membudidayakan tanaman tersebut secara besar-besaran diseluruh indonesia dikarenakan kopi termasuk salah satu komoditi perdagangan utama di eropa. Namun demikian sebenarnya kita tidak benar-benar dapat menikmati minuman kopi itu sendiri pada saat itu bahkan mungkin sampai saat ini. Saat itu belanda membudidayakan kopi jenis arabika, robusta dan liberika (hasil persilangan antara arabika & robusta) pada awalnya. Namun karena dinilai kopi jenis liberika tidak menjanjikan maka beberapa tahun kemudian belanda memusnahkan hampir seluruh perkebunan kopi jenis tersebut di Indonesia.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ketiga didunia saat ini setelah Brazil dan Vietnam. Data ICCRI pada tahun 2011 mencatat bahwa produksi kopi indonesia mencapai 600 ribu ton/tahun dengan 80%nya dihasilkan dari perkebunan rakyat dan memeliki kecenderungan untuk bertambah seiring masifnya perkembangan perkebunan kopi baru di Indonesia. Nilai ekspor kopi indonesia mencapai US $ 420,177,469 per april 2013, yang terdiri dari ekspor biji kopi, kopi instan maupun olahan kopi lainnya [aeki, 2013]. Dari ketiga varian produk ekspor tersebut nilai terbesar ialah pada ekspor biji kopi yakni senilai US $ 334,122,728 sementara nilai ekspor terkecil pada varian hasil olahan lainnya yakni senilai US $ 2,051,180. Perkembangkan kopi yang prospektif juga bisa dilihat dari perkembangan harga kopi dunia yang terus meningkat sejak tahun 2002 (lihat grafik disamping) meskipun pada tahun 2012 harga kopi baik arabika maupun robusta mengalami penurunan. Pada grafik disamping jenis kopi robusta mengalami kenaikan harga tertinggi pada tahun 2011 yakni mencapai US $ 5652/ton.

Pembudidaya tanaman kopi umumnya ialah masyarakat pegunungan atau dataran tinggi yang secara kebetulan berbatasan dengan hutan atau kawasan hutan meskipun sebetulnya secara ekogeografi tanaman kopi memiliki distribusi atau wilayah persebaran yang cukup luas yakni mulai dari ketinggian 0 mdpl-2000 mdpl. Beberapa jenis memang membutuhkan kriteria tertentu untuk bisa tumbuh secara optimal seperti jenis arabika yang dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian diatas 1000 mdpl. Iklim dan tanah juga mempengaruhi pertumbuhan kopi secara optimal. salah satu unsur iklim yang sangat berpengaruh ialah curah hujan . Menurut Niken (staff Puslit KOKA) curah hujan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan kopi yakni antara 1500-2000 mm/th. Ia membagi beberapa kriteria yang sesuai untuk pertumbuhan kopi berdasarkan intensitas air hujan yakni S1, S2, S3 dan N. S1 maksudnya ialah daerah dengan curah hujan 1500-2000 mm/th dan daerah tersebut sangat sesuai untuk menunjang pertumbuhan kopi secara maksimal. S2 merupakan daerah dengan curah hujan antara 1250-1500 mm/th dan merupakan daerah sesuai. Sementara S3 merupakan daerah dengan curah hujan 1000-1250 mm/th dan merupakan daerah kurang sesuai bagi pertumbuhan kopi sedangkan daerah dengan kriteria N ialah daerah dengan curah hujan dibawah 1000 mm/th dan merupakan daerah yang tidak sesuai.

Wilayah penghasil kopi di Jawa Tengah antara lain ialah Bawen (Kebun Kopi Banaran-PTPN IX), Indrokilo (Perkebunan Rakyat-Ungaran), Banyuwindu (Perkebunan Rakyat-Limbangan), Petung Kriyono (Perkebunan Rakyat-Pekalongan), Tlahap (Perkebunan Rakyat-Temanggung) dan beberapa tempat lainnya. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah yang berada pada ketinggian 600-1300an mdpl.

Kopi merupakan komoditi yang lekat dengan kehidupan masyarakat pegunungan bahkan merupakan salah satu sumber penghasilan utama bagi mereka. Kopi merupakan salah satu minuman yang tidak boleh tidak ada dan selalu dijumpai dalam setiap aktivitas sosial masyarakatnya baik itu kongko-kongko, rembug warga, maupun sebagai jamuan. Hampir setiap keluarga di wilayah pegunungan (meskipun sering juga dijumpai diwilayah lain) memiliki persediaan kopi bubuk baik dalam bentuk original tanpa campuran maupun dalam bentuk campuran dan sebagai bahan campuran biasanya digunakan jagung, beras dan jahe. Bahkan beberapa warga biasaya memiliki simpanan kopi dalam bentuk kopi beras yakni biji kopi yang masih terbungkus kulit ari (kulit tanduk) maupun dalam bentuk biji kopi siap sangrai. Kopi juga memberikan kesempatan bekerja bagi masyarakat sekitar sebagai tenaga petik kopi saat memasuki musim panen terutama saat musim panen raya yang biasanya jatuh pada bulan Juli-Agustus. Begitu tak terpisahkannya kopi dalam kehidupan masyarakat kita sampai-sampai banyak kajian, tulisan dan karya yang berkaitan dengan minuman tersebut atau sengaja mengkaitkannya meskipun tidak memiliki hubungan sama sekali. Diatara banyak kajian/ karya tersebut salah satunya ialah Filosi Kopi sebuah novel karya Dewi Lestari yang baru-baru ini telah difilmkan dengan judul yang sama dan telah rilis pada april 2015. Bisa disebut ngopi (bukan duplikasi) adalah bagian dari kebudayaan kita.

Perkembangan kopi saat ini sangat pesat bahkan permintaan dunia atas komoditi kopi terus meningkat dari tahun ketahun bahkan diprediksi terus meningkat seiring dengan bertambahnya penikmat kopi. Lihat grafik berikut (googling dulu). Dengan pertumbuhan pasar yang sedemikian pesat maka akan mendorong banyak pihak terutama petani kopi sendiri untuk membuka lahan guna memperluas areal perkebunan kopi dan meningkatkan produktivitasnya dengan berbagai cara meskipun hal itu tidak ramah lingkungan. indikasinya sudah ada antara lain pembukaan hutan, alih fungsi lahan dan penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya seperti penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Sementara itu para petani kopi saat ini belum mempraktekan sistem pengelolaan kopi yang zero waste atau clear coffee management yakni suatu sistem pengelolaan kebun kopi yang mendasarkan pada prinsip efisien, efektif, dan hemat energi serta renewable seperti pemanfaatan limbah kopi sebagai kompos, pakan ternak atau lainnya dan dalam pengolahan biji kopinya harus hemat energi. Dengan kata lain tantangan selanjutnya ialah bahwa praktek pengolahan kopi belum ramah lingkungan dan belum menjamin keberlanjutannya bagi kehidupan masyarakat dan petani itu sendiri.

Perluasan kebun kopi yang masif dengan pembukaan hutan (deforestrasi) dan alih fungsi lahan akan berdampak buruk bagi lingkungan, keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia itu sendiri. Kebiasaan yang terjadi dimasyarakat/ petani kopi yang tinggal dan hidup berdampingan dengan hutan ialah mereka cenderung menebang pohon dalam upaya eks/intensifikasi budidaya tanaman kopinya. Mereka berpendapat bahwa tanaman kopi membutuhkan area yang tenggar atau terbuka sehingga cahaya dari sinar matahari dapat menyinari tanamannya. Pendapat semacam ini tidak sepenuhnya benar dikarenakan sebenarnya tanaman kopi membutuhkan tanaman pelindung sebagai peneduh untuk mengatur kelembaban dan intensitas cahaya matahari yang masuk serta sebagai pelindung dari terpaan angin. Selain itu dengan adanya tanaman pelindung mampu mengurangi emisi carbon yang memberikan kontribusi terhadap pengurangan peningkatan suhu dan perubahan iklim secara global. Hasil penelitian Cacho et al tahun 2003 menyatakan bahwa laju penyerapan carbon diareal perkebunan kecil dan perkebuanan agroforestry secara berkelanjutan di negara tropis mencapai 1,5-3,5 ton C/ha/tahun. sementara menurut Hairiah (2010) dalam Panduan Sekolah Lapangan: Budidaya Kopi Konservasi (CI-Indonesia, 2011) menyatakan bahwa kemampuan perkebunan kopi dalam menyimpan karbon dapat mencapai 100 ton/ha dan dapat ditingkatkan dengan penanaman tanaman pelindung dengan lebih variatif.

Hal ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang kliru atau kurang dipahami oleh masyarakat/ petani dalam hal pembudidayaan tanaman kopi. Kejadian ini saya lihat sendiri dibeberapa lokasi seperti di Banyuwindu dan Indrokilo. Berkurangnya luasan hutan atau hilanganya tegakan akan mempengaruhi daya serap dan daya ikat suatu wilayah terhadap air dan tanah yang berdampak pada terjadinya banjir dan tanah longsor. Dampak lainnya ialah terancam dan berkurangnya keanekaragaman hayati diwilayah tersebut atau terjadinya ledakan populasi suatu jenis akibat hilangnya satu mata rantai ekosistem. Cerita dari masyarakat/ petani di Indrokilo saat wokshop education for sustainable agriculture beberapa waktu lalu di Balai Tani APVASI Gunungpati Semarang ialah bahwa salah satu issue yang menjadi prioritas utama mereka ialah adanya serangan hama monyet dan babi hutan diareal perkebunan mereka sebagai akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kopi dan cengkeh.

Kebiasaan lainnya ialah perilaku penggunaan bahan-bahan kimia sebagai sarana produksinya (sapro) yang antara lain ialah pupuk dan pestisida kimia dimana residu dari bahan-bahan kimia tersebut akan terbawa aliran air hujan dan terakumulasi didalam buah. Dampaknya ialah terjadi pencemaran air dan tanah serta hilangnya pemangsa (predator) alami dan organisme pengurai yang hidup didalam tanah. Akibatnya tanah menjadi keras dan tidak subur serta mengubah struktur fisik tanah yang dikemudian hari justru akan merugikan petani sendiri karena lahan sulit untuk ditanami lagi. Dampak dari pencemaran air ialah berkurangnya sumber bahan baku air minum dan hilangnya plasma nutfah air tawar (freshwater biodiversity) sebagai akibat rusaknya ekosistem air tawar.

Dalam skala pengolahan hilir kopi (produksi kopi bubuk) kebanyakan masyarakat/ petani kopi masih menggunakan cara-cara tradisional yang kurang ramah lingkungan seperti pada proses penyangraian biji kopi yakni masih menggunakan bahan baku kayu bakar sebagai sumber pengapian. Jika hal ini tidak dilakukan dengan menejemen pengolahan hasil hutan kayu secara baik dan bijak tentu akan berdampak negatif terhadap luasan hutan dan sumber daya alam yang ada. Pengelolaan limbah dari pengolahan kopi seperti limbah kulit dan air sisa cucian/peraman biji kopi (dalam proses basah) juga belum ada sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Untuk itu seyogyanya harus kita pikirkan secara bersama bagaimana upaya membudidayakan tanaman kopi secara berkelanjutan dengan prinsip-prinsip clear coffee management and zero waste (CCM-Zero) mengingat komoditi kopi merupakan salah satu komoditi yang sangat menjanjikan dimasa depan sehingga anak-anak kita dan genarasi penerus dapat menikmati seduhan kopi dan keindahan alam serta keanekaragaman hayati yang Indonesia miliki.